(Review) Overlord

No Comments
Pengarahan, alur cerita, dan para pemeran Overlord bersama menjadi sebuah film yang sangat menghibur yang tau persis apa yang diinginkannya. Ada momen yang menghibur dan dieksekusi dengan baik, meskipun tidak banyak. Secara keseluruhan, Overlord berbicara lebih banyak daripada yang Anda pikirkan.


PLOT: Sekelompok tentara Amerika, diturunkan di wilayah musuh lebih awal dari penyerbuan pada hari-H, Mereka menemukan sebuah eksperiman Nazi mengerikan yang dirancang untuk membuat pasukan Hitler mampu hidup selama ribuan tahun.

REVIEW: Satu hal yang perlu Anda ketahui sebelum menonton OVERLORD - ini bukan semacam SAVING PRIVATE RYAN. Ini adalah film zombie Nazi. Sesuaikan ekspektasi Anda. Jika ketidakakuratan sejarah mengganggu Anda, maka sebaiknya Anda tidak menonton film tentang Nazi yang meneror dari dalam kubur. Tapi jika Anda tidak memiliki masalah dengan itu, OVERLORD mungkin salah satu film horor terbaik tahun ini dan penuh kejutan dari awal hingga akhir.



Ini adalah cerita kelanjutan dari film thriller arahan sutradara Australia Julius Avery yang juga dibintangi Ewan McGregor, SON OF A GUN, dan setelah menonton ini, tampak jelas mengapa dia digembar-gemborkan untuk menyutradarai kelanjutan FLASH GORDON, karena dia punya adegan action yang hebat. Hal ini terlihat sejak film dimulai, dimana sebuah unit tentara parasut terbang diatas Normandia, tiba-tiba diserang oleh api yang sangat besar, dan harus melarikan diri dengan tergesa-gesa. Adegan melompat dari pesawat dan ketakutan yang dirasakan penerjun payung Boyce (Jovan Adepo) saat mendarat diekspresikan dengan sempurna, memulai film ini dengan cara yang membuat Anda sadar bahwa ini bukan film horor biasa.

Sementara naskahnya, ditulis oleh Billy Ray dan Mark L. Smith, tetap menampilkan klise film perang pada umumnya, seperti tentara yang berbicara tentang rumahnya dan langsung mati dengan cara yang mengerikan, film ini melakukannya dengan caranya sendiri. Mereka tahu betapa menggelikannya hal itu dan justru merayakan fakta tersebut. Semuanya dibantu dengan sangat baik oleh ketiga pemeran utama. Adepo membawa tingkat intelektual dan kepolosan yang tepat untuk perannya, tetapi pujian patut diberikan untuk Wyatt Russell.



Dia diperankan dalam bagian yang menunjukkan kemiripan yang luar biasa dnegan ayahnya, Kurt Russell, dan menempatkan dia sebagai pewaris ayahnya (saya pikir dia akan sangat cocok sebagai Snake Plissken). Mewarisi kesombongan ayahnya dan dibingkai sebagai pahlawan ikonik, lengkap dengan low angle shots, tentu saja merupaka upaya untuk membuatnya menjadi bintang dan dia memang layak, dengan dia berperan sebagai jagoan dari kelompok itu - ahli penghancur yang bertekad untuk menuntaskan misinya.

Aktris asal Prancis Mathilde Ollivier memainkan peran utama ketiga, seorang penduduk desa yang dipaksa melakukan hubungan seksual dengan komandan Nazi yang sadis (Pilou Asbæk – agak mengingatkan kita pada Ronald Lacey dalam RAIDERS OF THE LOST ARK) demi melindungi saudara laku-lakunya dari eksperimen Nazi. John Magaro sebagai peran yang menghadirkan jenaka, seorang pria bijak asal Brooklyin yang temperamen. Mereka semua terasa familiar, namun mengaduknya kedalam genre ini dengan eksperimen zombie penuh darah membuat film ini sangat menarik, terutama di adegan finale.



Diumbar dengan anggarannya yang kecil, OVERLORD adalah film aksi R-Rated yang langka, dan sebuah film yang patut mendapat dukungan dari para penggemar genre. Nasib film ini tentu diharapkan lebih dari sekedar penghibur di Netflix nantinya. Setelah menonton film ini di bioskop, saya merasa telah membuat keputusan yang tepat dan saya yakin OVERLORD akan digemari oleh para penggemar horor / aksi hard-core.





back to top