(Review) The Nutcracker and the Four Realms

No Comments
The Nutcracker and the Four Realms' cukup memenuhi harapan setiap penonton idealis. Bersiaplah untuk memasuki dunia yang penuh imajinasi, keindahan, dan kreativitas. Yang jelas, film ini berbeda dari semua Nutcrackers yang Anda tahu, namun bukan berarti film ini bagus.



PLOT: Seorang gadis muda (Mackenzie Foy) ditinggalkan sebuah telur permata misterius yang terkunci, oleh ibunya yang sudah tiada. Pencariannya untuk menemukan kunci telur itu membawa dia ke sebuah kerajaan paralel yang dulu pernah dikuasai ibunya, namun sekarang berada di tengah perang antara Sugar Plum Fairy (Keira Knightley) dan Mother Ginger (Helen Mirren).

REVIEW: THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS adalah produksi mewah dengan naskah yang lemah. Kisah klasik ini dihidupkan dengan seni yang luar biasa, tetapi tampaknya mereka lupa jika plot film juga sama pentingnya. Efek visual, kostum, desain produksi, dan koreografi balet semuanya ibarat menjadi pemanis bagi kue yang buruk. Kualitas permukaannya bagus, namun isinya hambar dan tidak menarik.

Mackenzie Foy berperan sebagai Clara Stahlbaum, seorang anak cerdas yang tinggal di London Victoria. Masih berduka atas ibunya yang baru meninggal, dia dipaksa untuk menghadiri sebuah pesta Natal bersama ayahnya (Matthew Macfayden) dan dua saudaranya (Tom Sweet, Ellie Bamber). Clara turut membawa sebuah hadiah terkunci peninggalan ibunya. Dia tidak tahu cara membuka benda tersebut. Pencipta sekaligus orang yang merawat ibunya, Drosselmeyer (Morgan Freeman), mengutusnya ke kebun miliknya untuk mendapatkan kunci khusus itu. Pencarian Clara menuntunnya ke dunia sihir yang disebut The Four Realms; dimana seorang pemimpin jahat, Mother Ginger (Helen Mirren), mengancam untuk perang. Clara bersekutu dengan Sugar Plum Fairy (Keira Knightley) dan Nutcracker Soldier yang setia (Jayden Fowora-Knight). 



Tema wanita yang kuat diumbar terus-menerus secara berlebihan. Clara kerap diingatkan bahwa dirinya periang, cantik, dan dicintai. Dirinya dihujani pujian nyaris di sepanjang film. Ada masalah besar dan dia adalah satu-satunya yang bisa menyelesaikannya. Saya tidak memiliki masalah dengan protagonis wanita yang positif dan sehat, tetapi penegasan tanpa henti merusak fantasi Disney tahun ini. THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS tidak memiliki plot cerita yang kuat seperti A WRINKLE IN TIME, meskipun keduanya bisa dikatakan sejenis. Kisahnya bisa saja diceritakan dengan tidak terlalu membanggakan karakter utama. Biarkan tindakan Clara membuktikan keberaniannya alih-alih diingatkan terus-menerus tentang kehebatannya.

THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS dibuat oleh dua sutradara ternama. Pembuatan pokok film dilakukan oleh Lasse Hallstrom (THE CIDER HOUSE RULES, CHOCOLAT). Reshoot dan pasca produksi dilakukan oleh Joe Johnston (JUMANJI, CAPTAIN AMERICA: THE FIRST AVENGER). Tampaknya Hallstrom memiliki 'masalah jadwal' sehingga Johnson dilibatkan, dengan persetujuan Hallstrom, untuk menyelesaikan film itu. Keduanya mendapat kredit sebagai co-director karena Johnston menyunting selama lebih dari 30 hari.

Saya pikir jeda antara kedua sutradara itu sangat jelas. Lasse Hallstrom terkenal dengan alur cerita unik yang terdorong oleh karakter. Joe Johnston adalah ahli dalam action dan special effects. Naskah film sejak awal sudah tidak sebanding. Tom McCarthy (WIN WIN, SPOTLIGHT) dilibatkan untuk menulis ulang naskah ketika Johnston mengambil alih. Sutradara yang lebih condong ke efek visual, yang disini tampak luar biasa, menyelesaikan cerita. Plot cerita pada akhirnya terasa hampa karena tidak ada keseragaman visi selama prosesnya. THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS membutuhkan kehangatan dan pesona untuk mendorong cerita dimana wanita sebagai karakter utama. Hal itu sulit dicapai ketika terjadi saling lempar antara dua sutradara yang karakteristiknya sangat berbeda.



Diproduksi Walt Disney Pictures, THE NUTCRACKER AND THE FOUR REALMS mengilhami keindahan dengan koreografi yang luar biasa. Prima Ballerina dari The American Ballet Theatre, Misty Copeland, memiliki cameo fantastis di babak kedua. Clara diperlihatkan sejarah The Four Realms lewat sebuah pertunjukkan balet. Copeland menari disepanjang set berwarna-warni dengan berbagai karakter yang menarik. The Nutcracker Suite secara elegan mengiringi para penari. Seluruh film seharusnya seindah adegan tersebut. Bahkan, bisa dibilang itu satu-satunya bagian yang benar-benar menangkap esensi dari cerita klasik dan balet.






back to top