(Review) The Girl in the Spider's Web

No Comments
Film kelima dalam seri "Girl" menawarkan Foy sebagai Lisabeth Salander baru yang lebih kuat, tetapi film ini tidak bisa dikatakan berhasil. Mereka terlalu serius untuk plot yang konyol dan karakter pendukung yang datar. Film ini masih bisa ditonton dan mengasyikkan, tapi tidak masuk kategori wajib tonton.



PLOT: Lisabeth Salander (Claire Foy) dipekerjakan oleh seorang programmer komputer untuk mencuri program yang dia kembangkan untuk NSA, yang memberi pengguna akses ke gudang senjata nuklir dunia. Ketika program itu dicuri oleh sindikat kriminal yang disebut "The Spiders", Salander dan teman lamanya Mikael Blomkvist (Sverrir Gudnason) harus mendapatkannya kembali sebelum terlambat.

REVIEW: THE GIRL IN THE SPIDER'S WEB adalah upaya gamblang Sony untuk melakukan reboot terhadap karakter Lisabeth Salander ciptaan Stieg Larsson. Tidak lagi mengincar tingkat prestise seperti THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO arahan David Fincher dan merombak perannya, meskipun Rooney Mara banjir pujian dan nominasi Academy Award karena perannya, THE GIRL IN THE SPIDER'S WEB membuat duo Salader/Blomkvist hampir tidak bisa dikenali.

Ini tidak terlepas dari fakta bahwa film ini berdasarkan kelanjutan franchise yang diciptakan oleh David Lagercrantz, dimana Larsson sudah meninggal sesaat setelah menyelesaikan trilogi aslinya. Jika Anda membaca novel karangan Larsson, tampaknya dua buku terakhir masih dianggap luar biasa, dengan referensi yang menghubungkan dengan ayah Salander, yang merupakan baddie dalam novel tersebut.



Perubahan terbesar ada pada Salander, yang dalam film ini diperankan oleh Foy, yang melakukan pekerjaan bagus dalam peran yang sebetulnya canggung untuknya - ditambah fakta bahwa ia harus dibandingkan tidak hanya dengan Mara, tetapi Noomi Rapace yang ikonik. Salander yang diperankannya tidak benar-benar menyerupai iterasi lainnya, dimana penyakit Asperger dan fobia sosialnya tidak ditonjolkan. Sebaliknya, dia menjadi semacam pahlawan action, mampu menghadapi enam orang sekaligus dalam perkelahian tangan kosong, menggunakan pistol, dan mengebut dengan motor melintasi danau beku. Tampaknya sutradara Fede Álvarez mencoba untuk memberikan Sony sebuah spinoff dengan style 007, lengkap dengan adegan pembuka yang penuh gaya, tetapi sayangnya tidak berhasil.

Yang membuat buku karangan Larsson sukses bukanlah ceritanya karena mereka cukup generik, melainkan kedalaman setiap karakternya. Salander, baik di novel maupun di film lainnya, secara impresif penuh teka-teki. Disini, dia hanyalah seorang superhero yang tersiksa. Sementara itu, Blomkvist sepenuhnya tidak berkaitan dengan plot, Gudnasson terlalu muda untuk peran itu, memerankannya sebagai seseorang yang polos padahal di buku dan film-film sebelumnya dia sangat sinis dan cerdas. Mengingat bagaimana perannya di film ini, bagiannya bisa dipotong sepenuhnya dan tidak akan mengubah apapun.

Sebaliknya, partner Salander adalah peretas yang kerap melucu dan seorang agen NSA yang diperankan LaKeith Stanfield. Stanfield selalu menarik untuk ditonton dan mungkin yang paling mengesankan ketimbang lainnya, mendapatkan satu-satunya adegan yang diatas rata-rata dalam film ini, dimana dia menggunakan computerized thermal imagery dalam serangan sniper.



Sungguh tidak ada sesuatu yang membuat THE GIRL IN THE SPIDER'S WEB menjadi film wajib tonton. Plot yang melibatkan adik Salander yang sudah lama hilang (Sylvia Hoeks) hanya efektif di bagian terakhir dan dilakukan dengan sangat santai. Jika tidak, karakter menarik lainnya dari serial ini akan diabaikan, menjadikan ini sebuah film lumayan, action gadungan, tidak jauh berbeda dengan film haram jadah tahun lalu THE SNOWMAN.

THE GIRL IN THE SPIDER'S WEB justru menjadi kelanjutan mengecewakan dari serial ini. Meskipun Foy memberikan yang terbaik dalam peran yang sebetulnya kurang cocok untuknya, dalam upaya untuk membuat karakternya lebih mainstream, mereka menghapus semua tentang dirinya yang sebetulnya justru membuat Salander menarik. Anggap ini sebagai keputusan yang salah dari pihak studio. Mungkin, setelah lima film dan lima buku, sudah saatnya untuk membiarkan karakter itu pergi.






back to top