Ulasan Film: The Seagull (2018)

No Comments

The Seagull merupakan film drama Amerika yang diangkat dari naskah pertunjukan drama yang ditulis pada tahun 1895 oleh penulis Rusia Anton Chekhov dengan judul yang sama, The Seagull, dan pertunjukkan drama tersebut baru dimainkan pada 1896. Film ini disutradarai oleh Michael Mayer dan ditulis oleh Stephen Karam.

The Seagull dibintangi oleh Saoirse Ronan, Annette Bening, Corey Stoll, Elisabeth Moss, Mare Winningham, Billy Howle, Brian Dennehy, dan beberapa pemain lain yang mendukung film ini. Film yang berdurasi kurang lebih satu jam tiga puluh delapan menit ini rilis premier di Tribeca Film Festival pada 21 April 2018, rilis oleh Sonny Pictures Classics pada 11 Mei 2018, dan rilis di Portugal pada 26 Juli 2018.

The Seagull mengisahkan tentang cinta segi empat antara Nina Zarechnaya (Saoirse Ronan), Konstantin Treplyov (Billy Howle), Irina Arkadina (Annette Bening), dan Boris Trigorin (Corey Stoll).

Pada musim panas, Irina, seorang aktris panggung drama yang sudah cukup lama berlakon di atas pementasan drama, dan anak laki-lakinya yang seorang seniman, Konstantin, mengunjungi kakaknya Pjotr Nikolayevich Sorin (Brian Dennehy). Selain bersama Konstantin, Irina juga membawa seorang novelis terkenal, Boris Trigorin.

Konstantin dan Nina sudah menjalin hubungan sebagai kekasih. Oleh karena Konstantin adalah pemuda yang sangat labil, sensitif, dan sangat emosional, Nina memutuskan hubungan tersebut. Tak lama setelah kejadian itu, Nina bertemu dengan Boris sang novelis ternama dan langsung jatuh hati pada tulisannnya yang indah karena Nina selalu berambisi menjadi seorang aktris drama yang bisa pentas di atas panggung pertunjukkan dengan barisan kata-kata yang indah dan penuh makna.

Boris memberi semangat pada Nina untuk menggapai mimpinya menjadi seorang aktris teater. Hal itu membuat Nina semakin jatuh cinta pada Boris. Namun sayangnya Boris menolak cinta Nina dan lebih memilih Irina dan pergi bersamanya.

Rangkaian cerita The Seagull cukup sederhana dan ringan. Cerita film ini merupakan tipikal film cerita klasik dengan kostum dan riasan rambut klasik, suasana hutan yang asri zaman dahulu kala, danau yang indah, yang ceritnya diisi dengan berbincang-bincang, sedikit bernyanyi, pesta dansa dengan konflik yang tak terlalu kuat dan nampak membosankan. Meskipun begitu, cerita film ini menyajikan akhir cerita yang kuat dan cukup mengejutkan.

Salah satu baris dialog dan adegan yang cukup kuat di akhir cerita yang dikatakan oleh Nina kepada Konstantin yang masih sangat mencintainya, sedangkan Nina masih sangat mencintai Boris, serta dunia drum teater yang ia geluti:
No, it's not me. That's not me. I've been walking and walking, thinking and I know now that, for us, what counts isn't a dreaming about fame, and glory but it's about endurance. It's about knowing how to keep going in spite of everything. Having faith in myself, that is helped. But what if I have no faith in myself or any clue, where I'm going or what I'm doing?............................................................
Remember how good it was before? Everything was so simple and clear. Humans.

Ada satu adegan yang menarik dalam cerita film ini menurut saya, yakni pada saat Nina melakukan story telling sebagai hiburan warga lingkungan sekitar. Dengan kain putih panjang yang terpasang, di depan para audiens, Nina bercerita dengan penuh semangat tentang binatang dengan alat bantu wayang yang berbentuk binatang dan lain-lain.

Dalam setiap karakter yang Saoirse Ronan mainkan dalam sebuah film hampir selalu berbeda dari satu karakter dengan karakter lainnya, baik dari segi penampilan atau pun peran. Dalam film The Seagull, Saoirse Ronan berperan menjadi seorang wanita yang berpenampilan anggun dan cantik dengan balutan pakaian dan riasan rambut klasik dengan pipi yang sedikit chubby. Aksen Irish nyaris tak terdengar dalam setiap baris dialog yang ia sampaikan.

Bagi pecinta cerita drama klasik, film ini bisa jadi referensi tontonan yang cukup menarik untuk ditonton.

Nilai: 3/5



back to top